Kamis, 10 Juni 2010

Budaya Makan dari Masa ke Masa

Kebutuhan makan ternyata berbeda dari satu masa ke masa lain. Meski tujuannya sama: bertahan hidup sebagai manusia sebagai makhluk yang membutuhkan “bensin” supaya mampu beraktivitas. Makanan kini memiliki banyak ragamnya, makanan khas sesuai waktu: pagi, siang atau malam hari. Makanan sesuai dengan acara: santai, semi formal atau formal. Makanan sesuai dengan harga: murah, mahal, dan mahal sekali. Makanan sesuai selera: rakyat kecil, eksekutif dan pejabat. Makanan sesuai tempat: sederhana, biasa dan mewah.

Budaya makan dulu kala

Dulu kala, budaya makan merupakan sesuatu yang prestisius. Sebab makan sebagai salah satu kegiatan yang mempengaruhi berat badan seseorang, terutama seorang perempuan berefek pada identitas diri. Contoh di barat, lukisan Monalisa yang terkenal itu menampakkan seorang perempuan dengan tubuh berisi. Kalangan menengah atas kala itu memang sengaja mempertontonkan kemakmuran mereka dengan tubuh. Sedangkan di wilayah lain, Cina misalnya, baru bangkit dari peperangan mencirikan kesejahteraan rakyat dengan muncul banyak restoran disana. Chinese food menjadi trend hingga melakukan ekspansi ke negara lain seperti Amerika. Chinese food instan menjamur disana.

Budaya makan masa kini

Sekarang perubahan itu muncul setelah era baru datang diserbu iklan yang menjual berbagai produk pelangsing tubuh. Sebenarnya, makan hanyalah kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Namun, sekarang makan lebih merupakan bagian dari gaya hidup. Bagi mereka dari kalangan menengah kebawah akan bertanya-tanya: “Besok makan atau tidak?”. Lalu kalangan yang lebih baik bertanya “Makan apa ya hari ini?” Kalangan menengah atas: “Makan dimana atau makan siapa hari ini?”

Budaya makan masa yang akan datang

Mungkinkah di masa yang akan datang manusia hanya makan pil kenyang? Percobaan ini pernah dilakukan saat terjadi bencana alam beberapa tahun yang lalu. Para korban bencana hanya diberi pil kenyang tanpa rasa. Mereka otomatis tak merasakan ada masalah pada awalnya. Namun, dalam waktu beberapa hari saja, mereka protes. Ternyata manusia tidak hanya membutuhkan perut kenyang, tapi juga perlu lengkapi hidup mereka dengan rasa. Jadi meski ada kemungkinan bahan makanan semakin berkurang, masakan dalam kehidupan manusia takkan lenyap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar