Selasa, 15 Juni 2010

Char kway teow

Chinese Food Char kway teow, literally "stir-fried ricecake strips", is a popular noodle dish in Indonesia, Malaysia and Singapore. The dish was (and still is in some places in Malaysia) typically prepared at a hawker stall.
It is made from flat rice noodles (河粉 hé fěn in Mandarin Chinese) of approximately 1 cm or (in the north of Malaysia) about 0.5 cm in width, stir-fried over very high heat with light and dark soy sauce, chilli, a small quantity of belachan, tamarind juice, whole prawns, deshelled cockles, bean sprouts and chopped Chinese chives. The dish may commonly be stir-fried with egg, slices of Chinese sausage and fishcake, and less commonly with other ingredients. Char koay teow is traditionally stir-fried in pork fat, with crisp croutons of pork lard, and commonly served on a piece of banana leaf on a plate.
Char kway teow has a reputation of being unhealthy due to its high saturated fat content. However, when the dish was first invented, it was mainly served to labourers. The high fat content and low cost of the dish made it attractive to these people as it was a cheap source of energy and nutrients. When the dish was first served, it was often sold by fishermen, farmers and cockle-gatherers who doubled up as char kway teow pedlars in the evening to supplement their income.
In Indonesia, the dish is served in Chinese restaurants and traveling street hawker, and locally known as Kwetiau Goreng (Indonesian: fried flat rice noodles). The Indonesian char kway teow is less oily, using no lard, and normally incorporating beef or chicken to cater the majority Muslim population. However, some Chinese restaurants in Indonesia do use pork fat.

Source: www.wikipedia.com

Minggu, 13 Juni 2010

Aneka Masakan Cina Indonesia



Chinese Food

Makanan Cina di Indonesia adalah gabungan antara masakan Cina dengan rasa khas Indonesia. Masakan Cina asli dimodifikasi dengan adanya tambahan cabai, santan dan berbagai macam bumbu khas Indonesia melahirkan makanan Cina khas Indonesia. Beberapa masakan dan kue memiliki kesamaan dengan Malaysia dan Singapur yang dikenal dengan Nonya yang diramu oleh orang Cina peranakan.

Masakan Cina Indonesia bervariasi tergantung dari lokasinya. Contoh, beberapa makanan Jawa Cina beradaptasi dengan budaya lokal. Di Jawa Tengah, makanan terasa lebih manis bila dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Di Medan, Sumatra Utara, masakan tradisional Cina masih dapat ditemukan.

Berikut beragam masakan Cina yang beradaptasi dengan budaya lokal:

  • Gaya baru masakan Cina dengan chef dari China, Hongkong atau Taiwan.
  • Masakan tradisional Cina, seperti Teochew, Hokkian, Hakka.
  • Masakan Cina Indonesia dengan resep-resep tambahan dari Belanda dan Negara Eropa yang lain seperti campuran antara masakan Cina dengan masakan khas Indonesia.
  • Masakan Cina beradaptasi dengan selera lokal, misalnya mengganti daging babi dengan daging ayam atau sapi agar menjadi makanan halal bagi muslim.

Berikut masakan khas Cina Indonesia:

  • Bakmi, mie yang berbeda di tiap daerah. Setiap kota memiliki cirri khasnya sendiri. Misalnya, Bakmi Bandung, Bakmi Medan, Bakmi Makassar, Bakmi Bangka, dan lain-lain.
  • Nasi goreng, nasi yang digoreng dengan bumbu tambahan, cabai, kecap manis atau aneka tambahan lainnya.
  • Mi goreng, mie yang digoreng dengan bumbu, cabai dan kecap manis.
  • Kwetiau goreng, mie gepeng yang digoreng dengan bumbu-bumbu, sayuran, baso dan ayam.
  • Cap Cai, berasal dari Hokkian untuk menggambarkan masakan dengan beragam sayuran ditambah potongan daging ayam.
  • Tahu Goreng, Tofu yang diberi saus kecap dan cabai.
  • Pau atau bak-pau ialah roti berisi daging.
  • Bakwan, Bak-Wan dari kata Hokkien sama dengan baso terbuat dari daging sapi. Tapi bakwan dibungkus dengan kulit lumpia dengan bentuk yang khas.
  • Bakso, daging sapi dengan campuran tepung dibetuk bulat-bulat.
  • Sapo, Sa-Po masakan berkuah dalam wadah besar.
  • Lumpia, gulungan berisi daging.


Alih bahasa dari www.wikipedia.org

Tiga Rasa Lumpia Semarang Asli

Kunjungan ke Semarang kali itu cukup singkat, pagi hari kami pergi kesana, malam hari kembali ke kota asal, Bandung. Suasana Kota Semarang tidak seramai Jakarta yang dikenal dengan kemacetannya. Di Semarang, banyak penjual makanan di pinggir jalan. Nampaknya jiwa wirausaha di kota itu begitu kental, mengingat kondisi ini. Mall disana terpusat pada satu tempat di kota. Tidak seperti Kota Jakarta dan Bandung, Semarang tidak memiliki mal yang tersebar dimana-mana.

Berhubung makanan khas Semarang adalah lumpia, maka tujuan awal kami pergi kesana yaitu: hunting Lumpia Semarang! Lumpia di mall juga ada, malah ada restoran khusus yang hanya menjual lumpia. Tapi kami mencari lumpia asli yang telah menjual lumpia puluhan tahun, tempatnya di Kauman. Meski tempatnya kecil dan nampak kurang meyakinkan J, restoran khusus menjual lumpia ini dikunjungi banyak orang. Harga satu lumpia cukup mahal, Rp 9000. Meski begitu, harga ini pantas dibayar dengan rasa yang enak, khas terasa rebon (udang kecil) dan bambu mudanya.

Lumpia Semarang ini dapat dinikmati langsung dan tidak langsung. Lumpia yang telah masak langsung dimakan di tempat. Sedangkan lumpia setengah matang bisa digoreng lagi di rumah. Kami cicipi beberapa disana lalu beli lumpia setengah matang untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Lumpia Semarang tidak sendirian, ia ditemani dengan saus berwarna hitam yang terbuat dari tepung tapioka, kecap dan gula merah. Lumpia juga didampingi dengan semacam salad yang terbuat dari lobak dan cuka. Rasa lumpianya kering diluar, gurih dan empuk didalam. Asin. Kalau lumpia ini dicelupkan ke saus, rasanya manis. Ditambah salad Jawa, rasanya asin. Jadi kalau Lumpia Semarang dimakan secara bersamaan dengan saus dan saladnya, rasanya asin gurih, manis dan asam.

Kamis, 10 Juni 2010

Budaya Makan dari Masa ke Masa

Kebutuhan makan ternyata berbeda dari satu masa ke masa lain. Meski tujuannya sama: bertahan hidup sebagai manusia sebagai makhluk yang membutuhkan “bensin” supaya mampu beraktivitas. Makanan kini memiliki banyak ragamnya, makanan khas sesuai waktu: pagi, siang atau malam hari. Makanan sesuai dengan acara: santai, semi formal atau formal. Makanan sesuai dengan harga: murah, mahal, dan mahal sekali. Makanan sesuai selera: rakyat kecil, eksekutif dan pejabat. Makanan sesuai tempat: sederhana, biasa dan mewah.

Budaya makan dulu kala

Dulu kala, budaya makan merupakan sesuatu yang prestisius. Sebab makan sebagai salah satu kegiatan yang mempengaruhi berat badan seseorang, terutama seorang perempuan berefek pada identitas diri. Contoh di barat, lukisan Monalisa yang terkenal itu menampakkan seorang perempuan dengan tubuh berisi. Kalangan menengah atas kala itu memang sengaja mempertontonkan kemakmuran mereka dengan tubuh. Sedangkan di wilayah lain, Cina misalnya, baru bangkit dari peperangan mencirikan kesejahteraan rakyat dengan muncul banyak restoran disana. Chinese food menjadi trend hingga melakukan ekspansi ke negara lain seperti Amerika. Chinese food instan menjamur disana.

Budaya makan masa kini

Sekarang perubahan itu muncul setelah era baru datang diserbu iklan yang menjual berbagai produk pelangsing tubuh. Sebenarnya, makan hanyalah kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Namun, sekarang makan lebih merupakan bagian dari gaya hidup. Bagi mereka dari kalangan menengah kebawah akan bertanya-tanya: “Besok makan atau tidak?”. Lalu kalangan yang lebih baik bertanya “Makan apa ya hari ini?” Kalangan menengah atas: “Makan dimana atau makan siapa hari ini?”

Budaya makan masa yang akan datang

Mungkinkah di masa yang akan datang manusia hanya makan pil kenyang? Percobaan ini pernah dilakukan saat terjadi bencana alam beberapa tahun yang lalu. Para korban bencana hanya diberi pil kenyang tanpa rasa. Mereka otomatis tak merasakan ada masalah pada awalnya. Namun, dalam waktu beberapa hari saja, mereka protes. Ternyata manusia tidak hanya membutuhkan perut kenyang, tapi juga perlu lengkapi hidup mereka dengan rasa. Jadi meski ada kemungkinan bahan makanan semakin berkurang, masakan dalam kehidupan manusia takkan lenyap.

Senin, 07 Juni 2010

Dunia Masak Tanpa Kertas

Perkembangan bahasa dan tulisan berjalan seiring dengan cara manusia berkomunikasi satu sama lain, sebagai salah satu cara menginternalisasikan budaya. Budaya yang menjadi warisan diberikan pada generasi selanjutnya secara lisan pada awalnya. Dunia jaman dulu belum membutuhkan kertas untuk membukukan sejarah atau hal paling simple namun penting, resep makanan. Pernahkah kita pergi ke dapur dan melihat ada banyak tumpukan buku? Dulu seorang ibu mengajarkan cara memasak dengan cara langsung praktek. Jaman sekarang ada banyak buku resep di pasaran. Berbagai macam kulier bisa kita buat sekejap mata tanpa perlu berjam-jam praktek melakukan proses trial and error.

Masa sekarang dunia semakin maya dengan adanya berbagai macam site. Dunia semakin kurang membutuhkan kertas. Kembali lagi ke masa lalu? Tentu tidak, sebab informasi sekarang disimpan dengan rapi dalam sebuah data bank yang praktis dan mudah diakses kapan saja. Dunia tanpa kertas memungkinkan kita untuk cari info hanya dengan ketik satu dua kata dalam mesin pencari. Misalnya ketik chinese food, makanan, minuman, dan restaurant. Maka akan muncul berbagai macam informasi yang berkaitan dengan kata-kata yang kita ketik. Dunia tanpa kertas, mungkinkah?

Jumat, 04 Juni 2010

Chinese Food

Chinese Indonesian cuisine is characterized by the mixture of Chinese with local Indonesian style. Chinese dishes modified with addition of chili, santan (coconut milk) and spices form a new Indonesian Chinese cuisine. Some of the dishes and cakes share the same style as in Malaysia and Singapore which are known as the Nonya cuisine by the Peranakan.

The Indonesian Chinese cuisine also vary with locations. For example in different parts of Java the dishes are adapted to local culture. In central Java, the food tends to be much more sweet. In Medan, North Sumatra a more traditional Chinese style can be found.

There are different style of Chinese food in Indonesia:

  • New style Chinese food with chefs from China, Hongkong or Taiwan.
  • traditional Chinese food, such as the Teochew, Hokkian, Hakka dishes.
  • Chinese-Indonesian food with recipes borrowed from Dutch and other European cuisine as well as local cuisine.
  • Chinese dishes adapted to the local taste, such as replacing pork with chicken or beef to make it halal

Some of the typical Chinese Indonesian Food:

  • Bakmi, noodles which are adapted to different styles and regions. Each city has its own recipe for noodles or mie, e.g. Bakmi Bandung, Bakmi Medan, Bakmi Makassar, Bakmi Bangka, etc. 'Bak-Mi' comes from the Hokkien pronunciation for 'Meat-Noodle'.
  • Nasi goreng, fried rice with spices and chili, often add kecap manis, but another variant may differ.
  • Mi goreng, fried noodle with spices and chili darkened with kecap manis.
  • Kwetiau goreng, fried flat noodle similar to char kuay teow.
  • Cap Cai, named for the Hokkian word for a mixture of various types of vegetables. Usually served as stir fried mixed vegetables with chicken when ordered as ala carte.
  • Tahu Goreng, fried Tofu with peanut sauce and chili. 'Tau-Hu' also comes from the Chinese word for 'Bean-Curd'.
  • Pau, which is the Chinese word for 'bun'; sometimes written as Bak-Pau, literally meaning 'Meat-Bun', which is a bun with meat fillings. (Bak is the Hokkien pronunciation for 'meat'.)
  • Bakwan, Bak-Wan is the Hokkien pronunciation for 'Meat-Ball', usually made from beef.
  • Bakso, Bak-So is the Hokkien pronunciation for 'Shredded-Meat'.
  • Sapo, Sa-Po which is the Chinese word for 'Clay-Pot'.
  • Lumpia, a fresh spring roll of Hokkien/Chaozhou-style origin.

Source: www.wikipedia.org

Rabu, 02 Juni 2010

Masakan China

Chinese food yang biasanya menjadi pilihan adalah cumi saus tiram. Cumi yang diiris tipis menyerupai cincin ini terlihat begitu menggirukan disirami saus tiram dengan irisan bawang daun. 2 hari ini aku dan temanku makan malam bersama dengan hidangan cumi saus tiram. Chinese food yang satu ini memang cukup menyegarkan. Rasanya manis pedas. Enak. Padahal kami makan cumi saus tiram ini di pinggir jalan. Lokasinya memang terlihat kurang representative, ternyata rasa makanannya tidak mengecewakan. Senangnya... Restaurant di sekitar Slipi ini dikunjungi banyak orang sepulang kerja karena berada di pinggir jalan.